Cara Menghitung Valuasi Perusahaan dengan Contoh Angka: Dari Omzet, Laba Bersih, Aset, sampai DCF

cara menghitung valuasi perusahaan

Cara Menghitung Valuasi Perusahaan dengan Contoh Angka: Dari Omzet, Laba Bersih, Aset, sampai DCF – Omzet Rp2 miliar per tahun tidak berarti sebuah perusahaan otomatis bernilai Rp2 miliar. Bisnis dengan omzet lebih kecil bahkan bisa memiliki valuasi lebih tinggi jika labanya lebih sehat, utangnya rendah, pelanggan terus kembali, dan operasional tidak bergantung pada satu orang.

Karena itu, cara menghitung valuasi perusahaan tidak cukup menggunakan omzet saja. Nilai bisnis dapat dihitung dari aset, laba, EBITDA, arus kas masa depan, hingga pembanding perusahaan sejenis.

Secara sederhana:

Kondisi BisnisMetode yang Relevan
Nilai bisnis banyak berasal dari aset fisikAset bersih
Omzet sudah terbentuk, laba belum stabilRevenue multiple
Laba relatif stabilLaba bersih × multiple
Operasional sudah mapanEBITDA × multiple
Arus kas dapat diproyeksikanDCF
Investor menawarkan modal untuk sahamPre-money dan post-money

Satu perusahaan dapat menghasilkan valuasi berbeda ketika dihitung menggunakan beberapa metode. Hal tersebut wajar karena setiap metode melihat sumber nilai bisnis dari sisi yang berbeda.

Table of Contents
 [hide]
  1. Jangan Samakan Enterprise Value dengan Nilai Ekuitas
  2. Data yang Dibutuhkan Sebelum Menghitung Valuasi Perusahaan
  3. Cara Menghitung Valuasi Perusahaan Berdasarkan Aset
    1. Keterbatasan Metode Aset
  4. Cara Menghitung Valuasi Perusahaan Berdasarkan Omzet
  5. Dari Mana Multiple Valuasi Ditentukan?
  6. Kenapa Omzet Besar Belum Tentu Membuat Valuasi Tinggi?
    1. Bisnis A
    2. Bisnis B
  7. Cara Menghitung Valuasi Perusahaan Berdasarkan Laba Bersih
  8. Cara Menghitung Valuasi dengan EBITDA
  9. Cara Menghitung Valuasi Perusahaan dengan DCF
    1. Tahun 1
    2. Tahun 2
    3. Tahun 3
  10. Menghitung Terminal Value
  11. Kenapa Hasil DCF Bisa Sangat Tinggi?
  12. Contoh Lengkap Cara Menghitung Valuasi Perusahaan
    1. 1. Valuasi Zeta Berdasarkan Aset
    2. 2. Valuasi Zeta Berdasarkan Omzet
    3. 3. Valuasi Zeta Berdasarkan Laba Bersih
    4. 4. Valuasi Zeta Berdasarkan EBITDA
    5. 5. Valuasi Zeta Berdasarkan DCF
  13. Perbandingan Hasil Valuasi Zeta
  14. Cara Membaca dan Memilih Metode Valuasi
    1. Jika Nilai Bisnis Banyak Berasal dari Aset
    2. Jika Perusahaan Sudah Menghasilkan Laba Stabil
    3. Jika Omzet Tumbuh tetapi Laba Belum Stabil
    4. Jika Arus Kas Dapat Diproyeksikan
    5. Jika Investor Sudah Memberikan Tawaran
  15. Cara Menghitung Pre-Money dan Post-Money Valuation
  16. Kesalahan yang Sering Membuat Valuasi Perusahaan Keliru
    1. 1. Menganggap Omzet sebagai Nilai Perusahaan
    2. 2. Memilih Multiple Tanpa Dasar
    3. 3. Tidak Memasukkan Seluruh Kewajiban
    4. 4. Menyamakan Enterprise Value dengan Equity Value
    5. 5. Tidak Menghitung Kontribusi Owner Secara Wajar
    6. 6. Menggunakan Harga Beli Aset Lama
    7. 7. Membuat Proyeksi DCF Terlalu Optimistis
    8. 8. Memilih Angka Valuasi Tertinggi
  17. Jadi, Bagaimana Cara Menghitung Valuasi Perusahaan yang Lebih Masuk Akal?
  18. Kesimpulan
  19. FAQ Cara Menghitung Valuasi Perusahaan

Jangan Samakan Enterprise Value dengan Nilai Ekuitas

Sebelum mulai menghitung, ada dua istilah yang perlu dibedakan: enterprise value dan equity value.

Enterprise value menggambarkan nilai bisnis secara keseluruhan dari sisi operasional. Sementara equity value lebih dekat dengan nilai yang menjadi bagian pemegang saham setelah posisi utang, kas, dan penyesuaian relevan diperhitungkan.

Dalam bentuk sederhana:

Equity Value ≈ Enterprise Value − Utang Bersih

Jika kas dan utang ditampilkan terpisah:

Equity Value ≈ Enterprise Value − Utang + Kas yang Relevan

Contohnya, sebuah perusahaan mempunyai enterprise value Rp2 miliar, utang Rp500 juta, dan kas Rp200 juta.

Maka estimasi sederhananya:

Rp2 miliar − Rp500 juta + Rp200 juta = Rp1,7 miliar

Jadi, enterprise value Rp2 miliar tidak otomatis berarti pemegang saham mempunyai nilai ekuitas Rp2 miliar.

Perbedaan ini penting terutama ketika menggunakan EV/EBITDA atau DCF yang menilai bisnis secara keseluruhan.

Data yang Dibutuhkan Sebelum Menghitung Valuasi Perusahaan

Sebelum menentukan metode valuasi, siapkan data utama berikut:

  • omzet 12 bulan terakhir;
  • laba bersih;
  • laba operasional;
  • total aset;
  • total utang atau kewajiban;
  • kas;
  • depresiasi dan amortisasi;
  • arus kas;
  • pertumbuhan pendapatan;
  • kontrak atau pendapatan berulang;
  • konsentrasi pelanggan;
  • tingkat ketergantungan bisnis terhadap owner.

Data juga perlu diperiksa agar mencerminkan kondisi ekonomi bisnis secara wajar.

Misalnya perusahaan mencatat laba Rp300 juta setahun, tetapi owner bekerja penuh tanpa memasukkan gaji yang wajar sebagai biaya. Laba tersebut bisa terlihat lebih tinggi daripada kemampuan ekonomi bisnis sebenarnya.

Karena itu, sebelum menggunakan laba sebagai dasar valuasi, angka keuangan sebaiknya dinormalisasi terlebih dahulu.

Cara Menghitung Valuasi Perusahaan Berdasarkan Aset

Metode aset cocok untuk bisnis yang sebagian besar nilainya berasal dari mesin, kendaraan, properti, persediaan, atau aset fisik lainnya.

Rumus sederhananya:

Valuasi Aset = Nilai Wajar Aset − Kewajiban

Misalnya perusahaan mempunyai:

  • mesin: Rp300 juta;
  • stok barang: Rp100 juta;
  • kas: Rp50 juta;
  • kendaraan: Rp150 juta.

Total aset:

Rp600 juta

Jika kewajiban perusahaan Rp200 juta:

Rp600 juta − Rp200 juta = Rp400 juta

Estimasi nilai berdasarkan aset bersih adalah:

Rp400 juta

Namun, jangan selalu menggunakan harga ketika aset dibeli.

Jika kendaraan dahulu dibeli Rp200 juta tetapi sekarang hanya bernilai Rp120 juta, angka Rp120 juta lebih relevan untuk menggambarkan kondisi aset saat valuasi dilakukan.

Keterbatasan Metode Aset

Metode aset tidak selalu menangkap nilai:

  • merek;
  • pelanggan loyal;
  • kontrak;
  • teknologi;
  • sistem operasional;
  • database pelanggan;
  • kemampuan menghasilkan laba.

Karena itu, perusahaan dengan aset fisik kecil belum tentu memiliki valuasi rendah.

Bisnis jasa atau perusahaan digital, misalnya, dapat mempunyai aset fisik terbatas tetapi menghasilkan laba dan arus kas yang besar.

Cara Menghitung Valuasi Perusahaan Berdasarkan Omzet

Pendekatan omzet menggunakan pendapatan tahunan dan sebuah revenue multiple.

Rumus:

Valuasi = Omzet Tahunan × Revenue Multiple

Misalnya omzet perusahaan Rp1,2 miliar per tahun.

Jika dibuat beberapa skenario:

MultiplePerhitunganHasil
0,5×Rp1,2 miliar × 0,5Rp600 juta
1×Rp1,2 miliar × 1Rp1,2 miliar
1,5×Rp1,2 miliar × 1,5Rp1,8 miliar

Angka 0,5×, 1×, dan 1,5× pada tabel tersebut hanya contoh simulasi, bukan standar valuasi untuk semua perusahaan.

Justru bagian tersulit dari pendekatan ini bukan perkaliannya, tetapi menentukan multiple yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari Mana Multiple Valuasi Ditentukan?

Idealnya, multiple diperoleh dari perusahaan atau transaksi pembanding yang cukup serupa.

Beberapa faktor yang perlu dibandingkan antara lain:

  • industri;
  • model bisnis;
  • ukuran perusahaan;
  • margin laba;
  • pertumbuhan pendapatan;
  • recurring revenue;
  • retensi pelanggan;
  • tingkat utang;
  • konsentrasi pelanggan;
  • risiko operasional;
  • ketergantungan terhadap owner.

Artinya, dua perusahaan dengan omzet Rp1 miliar belum tentu pantas menggunakan multiple yang sama.

Multiple sebaiknya diperlakukan sebagai asumsi yang mempunyai alasan, bukan angka yang dipilih karena menghasilkan valuasi yang diinginkan.

Kenapa Omzet Besar Belum Tentu Membuat Valuasi Tinggi?

Bandingkan dua bisnis berikut.

Bisnis A

  • omzet: Rp2 miliar;
  • laba bersih: Rp80 juta;
  • utang tinggi;
  • pelanggan banyak melakukan transaksi satu kali.

Bisnis B

  • omzet: Rp900 juta;
  • laba bersih: Rp250 juta;
  • utang rendah;
  • repeat order tinggi.

Bisnis A mempunyai omzet lebih dari dua kali Bisnis B.

Namun, Bisnis B menghasilkan laba lebih besar dengan risiko utang lebih rendah.

Margin laba bersihnya juga berbeda jauh.

Bisnis A:

Rp80 juta ÷ Rp2 miliar = 4%

Bisnis B:

Rp250 juta ÷ Rp900 juta ≈ 27,8%

Contoh ini menunjukkan mengapa omzet tidak boleh dibaca sendirian. Pendapatan besar belum tentu menghasilkan nilai bisnis tinggi jika margin tipis dan risiko perusahaan besar.

Cara Menghitung Valuasi Perusahaan Berdasarkan Laba Bersih

Jika perusahaan sudah menghasilkan laba yang relatif stabil, pendekatan sederhana yang dapat digunakan adalah:

Valuasi = Laba Bersih Tahunan × Multiple Laba

Misalnya laba bersih perusahaan Rp240 juta per tahun.

Buat beberapa skenario:

MultipleEstimasi Valuasi
3×Rp720 juta
4×Rp960 juta
5×Rp1,2 miliar

Multiple tersebut juga hanya digunakan sebagai simulasi.

Sebelum menghitung, pastikan laba yang digunakan sudah cukup mewakili kondisi normal perusahaan.

Misalnya:

  • biaya pribadi tidak bercampur dengan perusahaan;
  • gaji owner sudah diperhitungkan secara wajar;
  • pendapatan luar biasa yang hanya terjadi sekali tidak dianggap sebagai laba normal;
  • biaya yang sebenarnya diperlukan untuk menjalankan bisnis tidak dihilangkan.

Dua perusahaan dengan laba Rp240 juta dapat memperoleh valuasi berbeda jika kualitas labanya berbeda.

Bisnis dengan pelanggan berulang, pertumbuhan sehat, utang terkendali, dan operasional yang dapat berjalan tanpa ketergantungan besar terhadap owner biasanya mempunyai profil yang berbeda dari perusahaan dengan laba sama tetapi risiko jauh lebih tinggi.

Cara Menghitung Valuasi dengan EBITDA

EBITDA adalah laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Dalam contoh sederhana:

EBITDA = Laba Operasional + Depresiasi + Amortisasi

Misalnya:

  • laba operasional: Rp350 juta;
  • depresiasi: Rp50 juta;
  • amortisasi: Rp20 juta.

Maka:

Rp350 juta + Rp50 juta + Rp20 juta = Rp420 juta

EBITDA perusahaan adalah:

Rp420 juta

Jika untuk simulasi digunakan multiple 4×:

Rp420 juta × 4 = Rp1,68 miliar

Namun, hasil tersebut harus dibaca berdasarkan jenis multiple yang digunakan.

Jika yang digunakan adalah EV/EBITDA, maka Rp1,68 miliar merupakan estimasi enterprise value, bukan otomatis nilai ekuitas pemegang saham.

Misalnya perusahaan mempunyai:

  • enterprise value: Rp1,68 miliar;
  • utang: Rp300 juta;
  • kas: Rp100 juta.

Estimasi sederhananya:

Equity Value ≈ Rp1,68 miliar − Rp300 juta + Rp100 juta

Hasilnya:

Rp1,48 miliar

Inilah alasan hasil EBITDA × multiple tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai uang yang akan diterima pemilik ketika bisnis dijual.

EBITDA juga bukan arus kas bersih.

Perusahaan dapat mempunyai EBITDA tinggi tetapi tetap membutuhkan dana besar untuk:

  • membeli mesin;
  • mengganti kendaraan;
  • menambah modal kerja;
  • membayar kewajiban;
  • mengembangkan teknologi.

Karena itu, EBITDA perlu dibaca bersama kondisi keuangan perusahaan.

Cara Menghitung Valuasi Perusahaan dengan DCF

DCF atau Discounted Cash Flow menilai bisnis berdasarkan nilai sekarang dari arus kas yang diperkirakan dihasilkan pada masa depan.

Konsep utamanya sederhana:

Uang yang akan diterima beberapa tahun lagi tidak dinilai sama dengan uang yang tersedia hari ini.

Karena itu, arus kas masa depan perlu didiskontokan ke nilai sekarang.

Sebelum menghitung DCF, tentukan terlebih dahulu arus kas apa yang digunakan.

Secara umum terdapat dua pendekatan:

  • FCFF (Free Cash Flow to Firm) untuk menilai perusahaan secara keseluruhan;
  • FCFE (Free Cash Flow to Equity) untuk menilai arus kas yang tersedia bagi pemegang saham.

Tingkat diskonto harus konsisten dengan jenis arus kas tersebut. Untuk FCFF biasanya digunakan biaya modal perusahaan, sedangkan FCFE menggunakan tingkat pengembalian yang sesuai untuk ekuitas.

Untuk mempermudah contoh berikut, anggap arus kas yang digunakan merupakan free cash flow perusahaan dan tingkat diskonto 12% hanyalah asumsi simulasi.

Proyeksi arus kas:

  • Tahun 1: Rp360 juta;
  • Tahun 2: Rp432 juta;
  • Tahun 3: Rp518,4 juta.

Rumus nilai sekarang:

PV = Arus Kas ÷ (1 + Tingkat Diskonto)^Tahun

Tahun 1

Rp360 juta ÷ 1,12 = sekitar Rp321,4 juta

Tahun 2

Rp432 juta ÷ 1,12² = sekitar Rp344,4 juta

Tahun 3

Rp518,4 juta ÷ 1,12³ = sekitar Rp369 juta

Total nilai sekarang tiga tahun pertama sekitar:

Rp1,035 miliar

Tetapi perusahaan biasanya tidak dianggap berhenti beroperasi pada akhir tahun ketiga.

Karena itu, DCF dapat memasukkan terminal value untuk memperkirakan nilai bisnis setelah periode proyeksi eksplisit.

Menghitung Terminal Value

Misalnya untuk simulasi digunakan:

  • arus kas tahun ketiga: Rp518,4 juta;
  • pertumbuhan terminal: 5%;
  • tingkat diskonto: 12%.

Dengan pendekatan pertumbuhan perpetuitas:

Terminal Value = FCF Tahun Terakhir × (1 + g) ÷ (r − g)

Maka:

Rp518,4 juta × 1,05 ÷ (12% − 5%)

Hasil terminal value pada akhir tahun ketiga sekitar:

Rp7,776 miliar

Namun, angka tersebut masih berada pada akhir tahun ketiga sehingga harus didiskontokan kembali ke nilai sekarang.

Nilai sekarang terminal value sekitar:

Rp5,535 miliar

Ditambah nilai sekarang arus kas tiga tahun:

Rp1,035 miliar + Rp5,535 miliar = sekitar Rp6,57 miliar

Estimasi DCF pada skenario tersebut menjadi sekitar:

Rp6,57 miliar

Kenapa Hasil DCF Bisa Sangat Tinggi?

Perhatikan komposisinya:

  • PV arus kas tiga tahun: sekitar Rp1,035 miliar;
  • PV terminal value: sekitar Rp5,535 miliar;
  • total: sekitar Rp6,57 miliar.

Artinya, sebagian besar nilai justru berasal dari terminal value.

Inilah bagian penting yang sering terlewat ketika membaca DCF.

Angka Rp6,57 miliar tidak berarti perusahaan pasti bernilai sebesar itu. Hasil tersebut hanya benar berdasarkan asumsi yang digunakan dalam skenario.

Jika:

  • pertumbuhan terminal berubah;
  • tingkat diskonto berubah;
  • proyeksi arus kas tidak tercapai;

hasil DCF juga dapat berubah secara signifikan.

Karena itu, DCF lebih aman dibaca melalui beberapa skenario:

Konservatif → Dasar → Optimistis

Tujuannya bukan mencari angka valuasi tertinggi, tetapi mengetahui seberapa sensitif nilai perusahaan terhadap asumsi yang digunakan.

Contoh Lengkap Cara Menghitung Valuasi Perusahaan

Sekarang gunakan satu perusahaan yang sama agar perbedaan setiap metode lebih mudah terlihat.

Anggap sebuah perusahaan bernama Zeta mempunyai kondisi berikut:

  • omzet: Rp1,5 miliar per tahun;
  • laba bersih: Rp300 juta;
  • total aset: Rp600 juta;
  • total kewajiban: Rp420 juta;
  • pertumbuhan pendapatan: 20% per tahun;
  • repeat order: sekitar 40%;
  • kontrak aktif: Rp250 juta;
  • owner masih banyak terlibat dalam operasional.

1. Valuasi Zeta Berdasarkan Aset

Rp600 juta − Rp420 juta = Rp180 juta

Hasil:

Rp180 juta

Metode ini terutama melihat nilai bersih aset setelah kewajiban.

2. Valuasi Zeta Berdasarkan Omzet

Omzet Zeta:

Rp1,5 miliar

Gunakan beberapa skenario:

MultipleEstimasi
0,5×Rp750 juta
1×Rp1,5 miliar
1,5×Rp2,25 miliar

Rentangnya sangat lebar karena hasil sangat bergantung pada multiple.

Karena itu, angka tersebut belum cukup tanpa alasan mengapa Zeta layak menggunakan multiple tertentu.

3. Valuasi Zeta Berdasarkan Laba Bersih

Laba bersih:

Rp300 juta

MultipleEstimasi
3×Rp900 juta
4×Rp1,2 miliar
5×Rp1,5 miliar

Dengan pendekatan ini, hasil simulasi berada pada:

Rp900 juta–Rp1,5 miliar

4. Valuasi Zeta Berdasarkan EBITDA

Misalnya EBITDA Zeta Rp400 juta.

Dengan multiple simulasi 4×:

Rp400 juta × 4 = Rp1,6 miliar

Jika multiple tersebut adalah EV/EBITDA, maka Rp1,6 miliar dibaca sebagai enterprise value sebelum melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk memperoleh equity value.

5. Valuasi Zeta Berdasarkan DCF

Anggap free cash flow perusahaan diproyeksikan:

  • Tahun 1: Rp360 juta;
  • Tahun 2: Rp432 juta;
  • Tahun 3: Rp518,4 juta.

Dengan tingkat diskonto simulasi 12%, nilai sekarang arus kas tiga tahun pertama sekitar:

Rp1,035 miliar

Jika ditambahkan terminal value menggunakan pertumbuhan terminal 5%, estimasi DCF pada skenario tersebut menjadi sekitar:

Rp6,57 miliar

Hasilnya jauh lebih tinggi daripada metode laba maupun EBITDA.

Perbedaan tersebut tidak berarti DCF otomatis paling benar.

Justru hasil itu menunjukkan bahwa valuasi DCF Zeta sangat dipengaruhi oleh asumsi pertumbuhan dan terminal value.

Perbandingan Hasil Valuasi Zeta

MetodeHasil Simulasi
Aset bersihRp180 juta
Revenue multipleRp750 juta–Rp2,25 miliar
Laba bersihRp900 juta–Rp1,5 miliar
EBITDA 4×Rp1,6 miliar sebelum penyesuaian EV ke equity
PV arus kas 3 tahun±Rp1,035 miliar
DCF + terminal value±Rp6,57 miliar

Perbedaannya cukup besar.

Namun, jangan langsung mengambil rata-rata seluruh angka tersebut.

Nilai aset Zeta rendah karena metode aset hanya melihat aset dan kewajiban.

Metode laba dan EBITDA menghasilkan angka lebih tinggi karena memperhitungkan kemampuan bisnis menghasilkan keuntungan.

DCF jauh lebih tinggi karena juga memasukkan ekspektasi nilai bisnis setelah periode proyeksi melalui terminal value.

Karena itu, pertanyaan yang tepat bukan:

“Metode mana yang memberikan valuasi tertinggi?”

Melainkan:

“Metode mana yang paling sesuai dengan kondisi bisnis dan asumsi mana yang paling dapat dipertanggungjawabkan?”

Cara Membaca dan Memilih Metode Valuasi

Tidak semua perusahaan perlu dihitung menggunakan seluruh metode.

Gunakan karakter bisnis sebagai penyaring.

Jika Nilai Bisnis Banyak Berasal dari Aset

Mulai dengan aset bersih.

Metode ini lebih relevan untuk bisnis yang nilai ekonominya banyak ditopang aset fisik.

Jika Perusahaan Sudah Menghasilkan Laba Stabil

Gunakan laba bersih dan EBITDA.

Pastikan laba sudah dinormalisasi agar tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah akibat pencatatan yang tidak mencerminkan kondisi normal bisnis.

Jika Omzet Tumbuh tetapi Laba Belum Stabil

Revenue multiple dapat digunakan sebagai pembanding.

Namun, multiple harus mempunyai dasar yang masuk akal.

Jika Arus Kas Dapat Diproyeksikan

DCF dapat digunakan.

Asumsi arus kas, discount rate, pertumbuhan, dan terminal value harus ditampilkan secara transparan.

Jika Investor Sudah Memberikan Tawaran

Gunakan perhitungan pre-money dan post-money valuation untuk memahami valuasi yang tersirat dari transaksi tersebut.

Dalam banyak kasus, menggunakan dua atau tiga metode yang paling relevan lebih berguna daripada memaksakan seluruh metode lalu mengambil rata-ratanya.

Cara Menghitung Pre-Money dan Post-Money Valuation

Misalnya investor menawarkan:

Rp500 juta untuk 20% saham.

Post-money valuation dapat dihitung:

Post-Money Valuation = Investasi ÷ Persentase Saham

Maka:

Rp500 juta ÷ 20% = Rp2,5 miliar

Post-money valuation:

Rp2,5 miliar

Pre-money valuation:

Rp2,5 miliar − Rp500 juta = Rp2 miliar

Hasilnya:

  • pre-money valuation: Rp2 miliar;
  • investasi baru: Rp500 juta;
  • post-money valuation: Rp2,5 miliar.

Angka tersebut dapat berbeda dari hasil aset, laba, EBITDA, atau DCF karena berasal dari struktur transaksi investasi.

Tawaran Rp500 juta untuk 20% saham juga tidak membuktikan bahwa semua metode harus menghasilkan valuasi Rp2,5 miliar.

Angka tersebut merupakan valuasi implisit berdasarkan transaksi yang sedang dinegosiasikan.

Kesalahan yang Sering Membuat Valuasi Perusahaan Keliru

1. Menganggap Omzet sebagai Nilai Perusahaan

Omzet adalah pendapatan, bukan laba ataupun arus kas.

Bisnis beromzet besar tetap dapat mempunyai nilai rendah jika marginnya tipis dan risikonya tinggi.

2. Memilih Multiple Tanpa Dasar

Mengalikan omzet, laba, atau EBITDA dengan multiple sangat mudah.

Kesalahan terjadi ketika multiple dipilih hanya karena menghasilkan valuasi yang diinginkan.

Multiple perlu dibandingkan dengan kondisi bisnis yang relevan seperti industri, margin, pertumbuhan, recurring revenue, ukuran, dan risiko.

3. Tidak Memasukkan Seluruh Kewajiban

Aset Rp2 miliar belum tentu berarti equity value Rp2 miliar jika perusahaan juga memiliki kewajiban yang besar.

4. Menyamakan Enterprise Value dengan Equity Value

Hasil multiple tertentu dapat menunjukkan enterprise value, bukan otomatis nilai milik pemegang saham.

Utang, kas, dan penyesuaian relevan perlu diperhitungkan sebelum membaca nilai ekuitas.

5. Tidak Menghitung Kontribusi Owner Secara Wajar

Bisnis dapat terlihat sangat menguntungkan jika owner bekerja penuh tetapi tidak mencatat kompensasi yang semestinya sebagai bagian dari biaya.

Hal ini dapat membuat laba yang digunakan dalam valuasi terlalu tinggi.

6. Menggunakan Harga Beli Aset Lama

Harga ketika kendaraan atau mesin dibeli belum tentu sama dengan nilai ekonominya saat valuasi dilakukan.

7. Membuat Proyeksi DCF Terlalu Optimistis

Pertumbuhan yang terlalu tinggi atau tingkat diskonto yang terlalu rendah dapat membuat hasil DCF melonjak.

Semakin besar kontribusi terminal value terhadap total DCF, semakin penting menguji asumsi tersebut.

8. Memilih Angka Valuasi Tertinggi

Jika metode aset menghasilkan Rp500 juta, laba Rp1,2 miliar, EBITDA Rp1,5 miliar, dan DCF Rp5 miliar, bukan berarti Rp5 miliar otomatis merupakan angka terbaik.

Perbedaan tersebut harus dijelaskan sebelum menentukan rentang nilai yang masuk akal.

Jadi, Bagaimana Cara Menghitung Valuasi Perusahaan yang Lebih Masuk Akal?

Gunakan langkah berikut:

  1. Rapikan data omzet, laba, aset, utang, dan arus kas.
  2. Normalisasi laba jika terdapat biaya atau pendapatan yang tidak mencerminkan kondisi normal.
  3. Tentukan apakah bisnis lebih cocok dinilai dari aset, revenue, laba, EBITDA, atau cash flow.
  4. Jika menggunakan multiple, cari pembanding yang relevan.
  5. Jika menggunakan DCF, jelaskan arus kas, discount rate, pertumbuhan, dan terminal value.
  6. Bedakan enterprise value dengan equity value.
  7. Bandingkan hasil dari metode yang paling relevan.
  8. Telusuri alasan jika hasil antar-metode berbeda jauh.
  9. Gunakan rentang nilai jika satu angka tunggal tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Tujuan valuasi bukan menghasilkan angka setinggi mungkin, melainkan menghasilkan estimasi yang dapat dijelaskan.

Kesimpulan

Cara menghitung valuasi perusahaan tidak cukup dengan melihat omzet atau memilih satu multiple.

Metode aset melihat nilai aset setelah kewajiban. Revenue multiple menggunakan pendapatan dan pembanding. Metode laba menggunakan kemampuan menghasilkan profit, EBITDA membantu melihat performa operasi, sedangkan DCF memperkirakan nilai berdasarkan arus kas masa depan.

Karena setiap metode melihat sumber nilai yang berbeda, hasilnya tidak harus sama.

Sebelum menerima sebuah angka valuasi, pastikan:

  • metode sesuai dengan karakter bisnis;
  • laporan keuangan sudah cukup representatif;
  • laba sudah dinormalisasi jika diperlukan;
  • multiple mempunyai dasar;
  • utang dan kas diperhitungkan dengan tepat;
  • asumsi DCF dapat dijelaskan;
  • enterprise value tidak tertukar dengan equity value.

Valuasi yang lebih kuat bukan valuasi yang menghasilkan angka tertinggi, tetapi valuasi yang data, metode, asumsi, dan risikonya dapat dipertanggungjawabkan.

FAQ Cara Menghitung Valuasi Perusahaan

  1. Apa cara menghitung valuasi perusahaan yang paling sederhana?
    • Jika bisnis mempunyai aset yang jelas, perhitungan sederhana dapat dimulai dari nilai wajar aset dikurangi kewajiban. Jika perusahaan sudah mempunyai laba stabil, laba tahunan dikalikan multiple dapat digunakan sebagai salah satu estimasi awal.
  2. Apakah omzet Rp1 miliar berarti valuasi perusahaan Rp1 miliar?
    • Tidak. Valuasi Rp1 miliar baru diperoleh jika omzet Rp1 miliar dikalikan multiple 1×. Penggunaan multiple 1× tetap harus mempunyai dasar yang sesuai dengan kondisi perusahaan dan pembandingnya.
  3. Dari mana multiple valuasi perusahaan diperoleh?
    • Multiple idealnya berasal dari perusahaan atau transaksi pembanding dengan karakteristik yang cukup serupa. Industri, ukuran perusahaan, margin, pertumbuhan, recurring revenue, dan risiko perlu diperhatikan sebelum menggunakan multiple tersebut.
  4. Apakah EBITDA × multiple sama dengan nilai saham pemilik?
    • Tidak selalu. Jika menggunakan EV/EBITDA, hasil perhitungannya merupakan enterprise value. Utang, kas, dan penyesuaian relevan kemudian perlu dipertimbangkan untuk sampai pada estimasi equity value.
  5. Apa bedanya enterprise value dan equity value?
    • Enterprise value menggambarkan nilai bisnis secara keseluruhan, sedangkan equity value lebih dekat dengan nilai yang menjadi bagian pemegang saham. Dalam bentuk sederhana, equity value dapat diperoleh dari enterprise value setelah memperhitungkan utang dan kas yang relevan.